Menurunnya Atensi dan Hilangnya Ruang Kreasi

Pernahkah Anda menghitung berapa kali Anda memeriksa handphone Anda dalam sehari? Riset dari Nottingham Trent University menyembutkan rata-rata kita mengecek handphone 85x sehari. Sementara riset lain menyebut, rata-rata kita mengecek handphone kita 150x per hari. Semakin muda umur kita, semakin sering frekuensi kita mengecek handphone kita. Apakah ada yang salah dengan hal ini? Mari kita lakukan sedikit perhitungan. Asumsikan kita tidur 8 jam sehari. Sisa waktu terjaga kita 16 jam. 16 jam ini setara dengan 960 menit. Dalam 960 menit, kita mengecek handphone kita 85-150x. Artinya kita mengecek handphone kita per 7 atau 12 menit! Apakah ini masalah? Yap, tentu saja. Apa masalahnya?

Continue Reading

Deep Work: Rahasia Para Pencipta Karya

Kita semua tentu sepakat bahwa untuk mendapatkan hasil-hasil yang luar biasa, kita perlu melakukan hal-hal yang luar biasa. Untuk menciptakan karya yang luar biasa, kita pun perlu usaha yang luar biasa. Saya, misalnya, ingin menghasilkan buku-buku berkualitas yang dapat dijadikan referensi bagi setiap orang dalam menjalani hidupnya. Pertanyaannya, bisakah saya menghasilkan buku seperti itu bila saya tidak mau berusaha secara luar biasa? Tentu saja mustahil. Sayangnya, meskipun kita tahu bahwa kita perlu melakukan usaha yang luar biasa, tidak semua orang mau melakukannya. Tidak semua bersedia mengorbankan pikiran dan tenaga kita. Tidak semua bersedia meluangkan waktu untuk melakukannya. Kita mengaku sibuk, namun tidak produktif. Kita mengaku tak punya waktu, namun dua… Read More

Continue Reading

New Research of Happiness

Banyak orang ingin bahagia dalam hidupnya. Mungkin termasuk kita. Kita mendambakan rumah megah, mobil mewah, pasangan yang ideal, pekerjaan yang sempurna. Kita berasumsi semua hal itu membawa kebahagiaan dalam hidup. Namun, apakah hal-hal itu benar-benar membawa kebahagiaan? Banyak orang menganggap, kebahagiaan ditentukan oleh konten dari momen demi momen. Sehingga mereka mencari konten (baca: kegiatan, aktivitas, benda) untuk mengisi momen demi momen dalam hidupnya. Konten yang mereka asumsikan membawa kebahagiaan. Menariknya, ternyata kebahagiaan bukan ditentukan oleh kontennya melainkan ditentukan oleh fokus menjalani momennya. Kita bisa saja menganggap travelling adalah konten yang dapat membawa kebahagiaan. Namun, bisa saja si A melakukan travelling dan bahagia. Sementara si B melakukan travelling namun tetap merasa tidak bahagia. Padahal A dan B sama-sama menyukai travelling dan menganggap… Read More

Continue Reading

Penemuan Diri

“Life is an endless process of self-discovery.” ― James Gardner Banyak yang menyangka proses penemuan diri itu dapat dilakukan hanya dengan sekali asessment. Sayangnya, tidak demikian. Asessment hanyalah alat bantu untuk mengenali diri kita. Diri kita yang sebenarnya? Wallahu a’lam. Maka, penemuan diri bukanlah sebuah momen melainkan sebuah proses. Kita perlu menjalani dan melakukannya sepanjang hayat kita. Apa tujuannya? Sederhana, menemukan apa sebenarnya misi kita di atas bumi. Guru saya selalu mengatakan, kita lahir di atas bumi ini dengan sifat-sifat bawaan yang unik. Sebagian memiliki sifat keras kepala, sebagian lembut hati. Sebagian suka berkonfrontasi, sebagian suka mendamaikan. Sebagian pemikir, sebagian pekerja keras. Sifat-sifat bawaan ini tidak mungkin dihadirkan dalam diri… Read More

Continue Reading

Membentuk Disiplin Diri

Pembeda antara orang yang mengetahui dan melakukan, juga antara orang yang melakukan dan menghasilkan adalah disiplin. Kamus mengartikan disiplin sebagai ketaatan mengikuti aturan. Kita bisa melihat, orang-orang yang “gagal” menerapkan apa yang mereka ketahui biasanya karena kurangnya kedisiplinan mereka. Pertanyaannya, bagaimana cara membentuk disiplin?   Pertama, pecah tujuan besar menjadi tujuan-tujuan yang lebih kecil Disiplin adalah tentang kesabaran. Bagaimana kita sabar mencapai tujuan-tujuan yang lebih kecil sebelum mewujudkan tujuan yang lebih besar. Pelari marathon tidak begitu saja mampu berlari sampai 10 km. Mereka memiliki rencana latihan sebelumnya, dengan berlari 1 km, 2 km, 3 km dan seterusnya sampai mereka akhirnya mampu berlari 10 km. Tanpa latihan yang disiplin, tidak akan… Read More

Continue Reading